Tentang cerita
by
ianahmadp
- Oktober 28, 2017
Hari ini, satu kisah terukir lagi. Tak pernah ada yang meminta, tapi semua mengalir begitu saja, selayaknya air yang akan terus mengalir jika permukaan yang digenang tak seimbang. Hidupmu juga seperti itu, akan terus bergerak, entah menanjak atau menurun jalannya, yang pasti tidak akan pernah sama, yang pasti perubahan itu ada. Senang, sedih, itu semua sesuatu yang biasa. Bahkan kamu butuh semua kejadian itu. Untuk apa? Lagi-lagi tak perlu kamu tanya, kamu sendiri yang akan merasa. Coba dirasakan, dinikmati setiap jengkal prosesnya. Kamu akan paham nanti.
Tanpa kamu sadari atau mungkin sudah kamu sadari, hidupmu adalah ceritamu. Mau atau tidak mengukir cerita, ceritamu sudah ada ketika tarikan nafas pertama. Mulai dari timang kasih ibumu hingga sampai saat ini cerita itu terus mengalir, menjadi satu titik sumber yang menciptakan jutaan mil panjang sungai cerita, dan akan terus bertambah panjang. Sudah berapa banyak cerita yang telah kamu ciptakan? Tak terhitung, bahkan kamu sendiri sampai lupa, bukan? Inilah anehnya, kita sendiri kadang tidak sadar bahwa sedang berdiri di atas panggung pentas drama besar, padahal kita menjadi tokoh utama didalam cerita itu, menjadi daya tarik disetiap ceritanya. Aneh memang, tapi kebanyakan memang seperti itu.
Dengan semakin panjang sungai cerita kita mengalir, terkadang kita juga akan bertemu dengan sungai cerita yang lain. Tiba-tiba satu cerita datang bersebelahan dengan cerita kita, mendekat, semakin mendekat, bertambah dekat, lekat, dan akhirnya membaur menjadi satu cerita. Disini juga asyiknya, cerita kita menjadi berbeda, alurnya semakin menarik tak terduga. Apalagi cerita itu adalah cerita seseorang yang memang sudah kita harapkan untuk menjadi satu dengan cerita kita, hmmm.. sungguh sudah tidak tahu lagi apa yang dirasa. Indah.
Namun seiring berjalannya waktu, sumber sungai ceritamu juga akan semakin lemah, perlahan berkurang intensitas cerita yang dihasilkanya. Sampai pada akhirnya, hanya akan menjadi genangan air biasa, tak mengalir. Ceritamu berhenti sampai disini. Memang sungai ceritamu tidak ada lagi, namun sisa resapan airnya masih tetap ada, membekas. Hanya akan tersisa rekam jejak jalan yang kamu pernah lewati, terkenang abadi disetiap ingatan mereka yg pernah menghuni.
Tanpa sadar kita telah dijadikan budak waktu, dipaksa berjalan atau bahkan berlari untuk terus menghindar dari tebasan tajam mata pisaunya. Sebenarnya bukan sekedar tuntutan waktu, tapi tuntutan dari sang pemilik waktu. Dia yang berkuasa atas segala sesuatu. Melawan? Mana mungkin! Patuh dan pasrah kepada-Nya adalah jalan terbaik kita. Kesiapan itu perlu, maka dibutuhkan persiapan. Kesadaran itu perlu, maka dibutuhkan penyadaran. Pun juga dengan keyakinan.
😊
Tanpa kamu sadari atau mungkin sudah kamu sadari, hidupmu adalah ceritamu. Mau atau tidak mengukir cerita, ceritamu sudah ada ketika tarikan nafas pertama. Mulai dari timang kasih ibumu hingga sampai saat ini cerita itu terus mengalir, menjadi satu titik sumber yang menciptakan jutaan mil panjang sungai cerita, dan akan terus bertambah panjang. Sudah berapa banyak cerita yang telah kamu ciptakan? Tak terhitung, bahkan kamu sendiri sampai lupa, bukan? Inilah anehnya, kita sendiri kadang tidak sadar bahwa sedang berdiri di atas panggung pentas drama besar, padahal kita menjadi tokoh utama didalam cerita itu, menjadi daya tarik disetiap ceritanya. Aneh memang, tapi kebanyakan memang seperti itu.
Dengan semakin panjang sungai cerita kita mengalir, terkadang kita juga akan bertemu dengan sungai cerita yang lain. Tiba-tiba satu cerita datang bersebelahan dengan cerita kita, mendekat, semakin mendekat, bertambah dekat, lekat, dan akhirnya membaur menjadi satu cerita. Disini juga asyiknya, cerita kita menjadi berbeda, alurnya semakin menarik tak terduga. Apalagi cerita itu adalah cerita seseorang yang memang sudah kita harapkan untuk menjadi satu dengan cerita kita, hmmm.. sungguh sudah tidak tahu lagi apa yang dirasa. Indah.
Namun seiring berjalannya waktu, sumber sungai ceritamu juga akan semakin lemah, perlahan berkurang intensitas cerita yang dihasilkanya. Sampai pada akhirnya, hanya akan menjadi genangan air biasa, tak mengalir. Ceritamu berhenti sampai disini. Memang sungai ceritamu tidak ada lagi, namun sisa resapan airnya masih tetap ada, membekas. Hanya akan tersisa rekam jejak jalan yang kamu pernah lewati, terkenang abadi disetiap ingatan mereka yg pernah menghuni.
Tanpa sadar kita telah dijadikan budak waktu, dipaksa berjalan atau bahkan berlari untuk terus menghindar dari tebasan tajam mata pisaunya. Sebenarnya bukan sekedar tuntutan waktu, tapi tuntutan dari sang pemilik waktu. Dia yang berkuasa atas segala sesuatu. Melawan? Mana mungkin! Patuh dan pasrah kepada-Nya adalah jalan terbaik kita. Kesiapan itu perlu, maka dibutuhkan persiapan. Kesadaran itu perlu, maka dibutuhkan penyadaran. Pun juga dengan keyakinan.