Dia datang (lagi)
by
ian ahmad p
- Juli 05, 2018
Aku selalu menunggu, menunggu kapan waktu. Menunggu mata bisa melihatmu didepanku.
Akhir-akhir ini kamu bertamu lagi setelah sekian lama pergi. Dulu sementara waktu katamu, sebentar saja. Tapi jika kamu tahu, tidak ada kata sebentar jika itu tentangmu, yang sebentar itu tidak ada, jika memang sebentar itu ada maka aku yang memang tidak pernah merasakannya.
Aku sempat tersenyum saat telingaku mendengar kata “bertamu”, namun senyumku tiba-tiba diam membungkam, ketika wajahmu sudah dihadapan mataku. Sungguh, kamu memang bertamu, aku benar-benar bisa melihat senyuman lucu dan menggemaskan dari wajahmu itu. Tapi kenapa kamu datang dalam wujud lain? Kamu datang tidak dengan sebenarnya dirimu, kau datang menjelma — menjadi rintik air pembawa rindu.
Namun, untuk saat ini, setidaknya aku harus belajar berterimakasih kepada bayangmu, sebab hanya itu yang mampu bersanding denganku saat mata tak mampu menjamah ragamu. Terimakasih, sungguh terimakasih atas semua cerita indah yang kau beri.
Sekarang, coba tengok jalanan beraspal itu, siapa yang merubahnya menjadi setenang dan sedingin ini? Lihat bunga dan daun-daun didepanku, sejak kapan menjadi layu, menggelayut memanja? Arahkan matamu keatas, lihat lampu yang menggantung itu, membias dikelopak mataku. Apa yang kamu lihat? Suasana tidak seperti hari-hari biasanya, bukan? Suasana berubah tentram, jauh lebih indah menenangkan. Kamu tahu kenapa? Sebab, ada mereka yang sedang berbahagia. Tersenyum riang merayakan temu. Jika bagiku hujan adalah kamu yang menjelma menjadi rintik air pembawa rindu, mungkin bagi aku yang lain hujan memang sebenar-benarnya temu.
Selamat datang (lagi), hujan.
🙂