Ada yang selalu ingat dengan rindunya
Dari sini, dari ketinggian ini, 3339 meter diatas permukaan laut, aku tetap bisa melihatnya, melihatmu. Bahkan mataku bisa tersenyum lebih lebar saat sinar rindunya membias memenuhi kelopak mata – Saat itu aku sedang tersenyum dihiasi siratan cahaya senja. Dari sini aku bisa melihatnya lebih lama dari biasanya, meski tetap satu yang tidak akan pernah bisa berubah; dia akan tetap pergi juga. Syukurku, dia hanya pergi sementara waktu saja, pulang sejenak untuk besok kembali lagi, tetap berada pada tempatnya, masih sama bertahan dengan rindunya. Dia selalu kokoh dalam sabar yang terbungkus rapi dengan keyakinan akan sesuatu yang baik suatu hari nanti. Keyakinan itu yang selalu ada, melekat pada kepala, seolah ada kamu yang berkata; “Kalau tidak sekarang, mungkin nanti.” Hahaa.. – senja kala itu aku tertawa pelan bersama khayalanku.
Perlahan-lahan tapi pasti. Semakin lama cahaya senja itu semakin menyurut, dan jauh disebelah timur sana gelap malam sudah bersiap untuk mendekap. Aku bisa membayangkan begitu lambatnya cahaya senja pulang, merangkak ke barat, lambat sekali, menunggu ada yang mendekap. Dan disebelah timur sana begitu cepatnya malam menjemput, berlari kencang, mungkin tidak lagi mengenal kata berlari, tapi loncat, loncat sejauh dan secepat yang dia bisa. Ah, tapi sungguh! Sayang sekali, belum juga sampai pada bayangannya, cahaya senja telah pergi menghilang, lantas sekarang malam yang berdiri terpaku sendirian. Kecewa. Mengeluh kesal. Aku bertanya-tanya, “Setiap hari mereka seperti ini? Lantas akan sampai kapan? Apa mungkin sudah ketentuan? Takdir alam, mereka tak akan pernah bisa bertemu? Saling mendekap satu sama lain?” – aku diam, hening, hanya suara angin malam yang terdengar, terasa dingin. Saat itu gelap sempurna menyelimuti langit. Malam sendiri, dan senja sudah pulang untuk besok berharap lagi.
“Entah, kemana kaki mengajaknya melangkah, menjauh, sangat jauh, hingga mata dan telinga tak lagi berarti apa-apa. Tapi ada, ada mereka yang tetap selalu ingat dengan rindunya”. Semoga sama.

0 komentar